
Alhamdulillah wahdahu, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’dahu, wa ba’du.
Pada artikel sebelumnya telah disebutkan bahwa mujaz yang memiliki sanad tertinggi di dunia pada masa sekarang yang masih hidup ada dua orang, yaitu Syaikh Misbah dan Syaikh Muhammad Yunus Al-Ghalban, di mana keduanya berguru kepada Syaikh Al-Fadhili ‘Ali Abu Laila.
Syaikh Misbah membaca qira’at ‘asyrah sughra hingga surat Yasin, sedangkan Syaikh Muhammad Yunus Al-Ghalban membaca qira’at sab’ah. Sanad tertinggi keduanya diperoleh dari jalur guru mereka, yaitu Syaikh Al-Fadhili, dari Syaikh Abdullah Abdul ‘Azhim, dari Syaikh ‘Ali Al-Hadadi Al-Azhari, dari Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi. Dengan demikian, keduanya diperantai oleh 3 orang hingga kepada Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi, atau 27 perantara hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk riwayat Hafsh thariq Asy-Syathibiyyah.
Namun, sebagaimana telah disampaikan pada artikel sebelumnya, jalur Syaikh Al-Fadhili melalui Syaikh Abdullah Abdul ‘Azhim ini diragukan oleh sebagian peneliti sanad. Mereka lebih meyakini bahwa Syaikh Al-Fadhili tidak belajar langsung kepada Syaikh Abdullah Abdul ‘Azhim, melainkan kepada murid beliau, yaitu Syaikh Isma’il bin Isma’il Abin Nur dan Syaikh Sayyid Ahmad Abu Hathab.
Dengan demikian, sanad Syaikh Misbah dan Syaikh Muhammad Yunus Al-Ghalban turun satu tingkat, menjadi diperantai oleh 4 orang hingga kepada Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi, atau 28 orang hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun turun satu tingkat, sanad keduanya tetap tergolong ‘ali, meskipun tidak lagi menjadi yang tertinggi secara mutlak, karena terdapat banyak mujaz lain yang juga memiliki jumlah perantara yang sama.
Pada artikel ini akan disebutkan beberapa nama mujaz yang sanadnya, dalam riwayat Hafsh thariq Asy-Syathibiyyah, diperantai oleh 28 orang hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ, di antaranya:
- Syaikh Muhammad Kurayyim Rajih hafizhahullah ta’ala, Syaikhul Qurra dari negeri Syam (Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon). Beliau lahir di Suriah sekitar tahun 1926 M (1344 H), sehingga usia beliau telah mencapai sekitar 100 tahun hijriyah. Saat ini beliau berdomisili di Qatar.
Beliau membaca qira’at ‘asyrah sughra kepada Syaikh Mahmud Faiz Ad-Dair’athani, yang membaca kepada Syaikh Muhammad Salim Al-Hulwani, dari ayah beliau Syaikh Ahmad Al-Hulwani Al-Kabir, dari Syaikh Ahmad Al-Marzuqi, dari Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi. Dengan demikian, antara beliau dan Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi terdapat 4 perantara, atau 28 perantara hingga kepada Nabi ﷺ. - Syaikh Dr. Aiman Rusydi Suwaid hafizhahullah ta’ala, Syaikhul Qurra dari Suriah, lahir tahun 1955 M (1374 H), dan saat ini berdomisili di Saudi Arabia.
Beliau berguru kepada enam masyaikh, dan sanad paling tinggi beliau melalui Syaikh Abdul ‘Aziz ‘Uyun Su’ud, yang membaca kepada Syaikh Muhammad Salim Al-Hulwani, dari ayah beliau, dari Syaikh Ahmad Al-Marzuqi, dari Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi. Dengan demikian, antara beliau dan Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi terdapat 4 perantara, atau 28 perantara hingga kepada Nabi ﷺ. - Syaikh Muhammad Tamim Az-Zu’bi hafizhahullah ta’ala, Syaikhul Qurra dari kota Madinah, lahir di Suriah tahun 1951 M (1370 H), dan kini berdomisili di Madinah.
Beliau berguru kepada lebih dari sepuluh masyaikh, dan sanad tertinggi beliau melalui Syaikh Abdul ‘Aziz ‘Uyun Su’ud, sehingga sanad beliau setingkat dengan Syaikh Dr. Aiman Suwaid. - Syaikh Yusuf Al-Mar’asyli hafizhahullah ta’ala, ulama dari Beirut, Lebanon, lahir sekitar tahun 1952 M (1371 H). Beliau adalah penulis berbagai kitab dalam bidang hadits, aqidah, dan fiqih.
Dalam qira’at, beliau membaca riwayat Hafsh thariq Asy-Syathibiyyah secara kamil kepada Syaikh Hasan bin Hasan Dimasyqiyah, yang sanadnya bersambung kepada Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi dengan 4 perantara. Maka demikian pula semua murid beliau yang masih hidup termasuk dalam kategori ini. - Syaikh Muhammad Hisyam Sabsabi Al-Himshi, ulama qira’at kelahiran Himsh (Suriah), saat ini berdomisili di Kuwait. Beliau aktif mengajar dan menulis, serta memiliki rekaman murottal dalam berbagai qira’at.
Sanad tertinggi beliau melalui Syaikh Bakri At-Tharabusi, yang bersambung kepada Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi dengan 4 perantara. - Syaikh ‘Adnan Abdurrahman Al-‘Urdhi Al-Mishri, ulama qira’at kelahiran Mesir tahun 1963 M (1383 H), saat ini berdomisili di Riyadh.
Beliau membaca qira’at kepada beberapa masyaikh, di antaranya kepada Syaikh Bakri At-Tharabusi, sehingga sanad beliau juga termasuk diperantai oleh 4 orang hingga kepada Syaikh Ibrahim Al-‘Ubaidi. - Syaikh Muhammad Yasir Badruddin Arnus Al-Himshi, ulama qira’at asal Suriah, saat ini berdomisili di Qatar sebagai imam dan khatib.
Beliau membaca qira’at ‘asyrah sughra kepada Syaikh Muhammad Kurayyim Rajih, dan juga membaca kepada Syaikh Bakri At-Tharabusi. Dari jalur inilah beliau termasuk mujaz yang diperantai oleh 28 orang hingga kepada Nabi ﷺ.
Tentu masih banyak puluhan, bahkan mungkin ratusan masyaikh lain selain yang disebutkan di atas. Sebagai pedoman, setiap murid yang masih hidup dan pernah membaca riwayat Hafsh thariq Asy-Syathibiyyah secara kamil atau lebih dari itu kepada salah satu dari masyaikh berikut:
- Syaikh Abdul ‘Aziz ‘Uyun Su’ud
- Syaikh Hasan bin Hasan Dimasyqiyah
- Syaikh Bakri At-Tharabusi
maka mereka termasuk mujaz yang diperantai oleh 28 orang hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Adapun bagi yang berpendapat bahwa murid-murid Syaikh Al-Fadhili adalah pemilik sanad tertinggi (yaitu 27 perantara hingga kepada Nabi ﷺ), dan diketahui bahwa yang masih hidup dari murid beliau hanya dua orang—Syaikh Misbah Ad-Dusuqi dan Syaikh Muhammad Yunus Al-Ghalban—maka semua murid yang membaca kepada keduanya, atau kepada murid lain dari Syaikh Al-Fadhili, tetap termasuk mujaz yang diperantai oleh 28 orang hingga kepada Nabi ﷺ. Jumlah mereka sangat banyak dan tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Wa lillaahil hamd.
Demikian artikel tentang para pemilik sanad Al-Qur’an tertinggi pada masa sekarang, yang sebagian besar dinukil dari kitab Tuhfatul Ikhwan karya Syaikh Hasan Musthafa Al-Warroqi. Untuk keterangan lebih lengkap, para pembaca dapat merujuk langsung kepada kitab tersebut.
Barakallahu fiikum. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.


