Tahqiq SanadTahukah Anda

Pemilik Sanad Al Qur’an Tertinggi Pada Masa Sekarang (Bagian Pertama)

Foto: Pixabay
13views

Alhamdulillah wahdahu, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’dahu.

Ilmu yang membahas tentang sanad-sanad Al-Qur’an umumnya kurang diminati oleh para penuntut ilmu qira’at. Mereka lebih tertarik mempelajari praktik bacaan qira’at. Namun demikian, ada satu topik yang barangkali cukup menarik dalam pembahasan sanad-sanad Al-Qur’an, yaitu tentang siapa pemilik sanad Al-Qur’an tertinggi pada masa sekarang ini.

Topik ini juga menjadi perhatian salah seorang peneliti sanad Al-Qur’an, yaitu Syaikh Hasan Musthafa Al-Warroqi. Beliau menyusun sebuah kitab berjudul “Tuhfatul Ikhwan bimaa ‘alaa min Asaaniidi Qurro Haażaa az-Zamaan”. Kitab ini cukup detail dalam menjelaskan nama-nama pemilik sanad Al-Qur’an tertinggi pada masa sekarang.

Pada bagian pembuka, beliau menerangkan pentingnya sanad sebagai salah satu keistimewaan umat Islam dibandingkan umat-umat lain. Selain itu, sanad juga merupakan salah satu rukun qira’at yang sahih. Beliau juga menjelaskan perhatian dan perjuangan para ulama terdahulu dalam mendapatkan sanad yang tinggi. Kemudian, beliau menerangkan cara mengetahui sanad tertinggi, serta standar suatu sanad dikatakan tinggi (‘ali) atau rendah (nazil).

Untuk mengetahui apakah suatu sanad tergolong ‘ali atau nazil, dilakukan dengan membandingkan sanad-sanad yang beredar pada masa sekarang serta menghitung jumlah perawi, dimulai dari guru pemilik sanad hingga sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Jika suatu sanad memiliki jumlah perawi paling sedikit dibandingkan sanad lainnya, maka sanad tersebut adalah yang paling tinggi (‘ali). Sebaliknya, jika jumlah perawi semakin banyak, maka sanad tersebut semakin rendah (nazil).

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baiquni dalam Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah:

وكل ما قلت رجاله علا
وضده ذاك الذي قد نزل

Sebagai contoh, pada sanad seseorang terdapat 27 perawi antara dirinya dengan Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan pada sanad orang lain terdapat 28 perawi. Maka sanad yang lebih tinggi adalah yang memiliki 27 perawi.

Saat menghitung jumlah perawi dalam suatu sanad dan membandingkannya dengan sanad lain, perlu diperhatikan bahwa sanad yang dibandingkan harus sama dalam qira’at, riwayat, dan thariq-nya. Misalnya, sanad ‘Ashim dari Syaikh A dan sanad ‘Ashim dari Syaikh B dengan thariq yang sama, yaitu dari Asy-Syathibiyyah.

Karena itu, tidak bisa membandingkan sanad qira’at ‘asyrah sughra milik si A dengan ‘asyrah kubra milik si B. Bahkan, meskipun sama-sama ‘asyrah sughra, sanad qira’at ‘Ashim milik si A tidak bisa dibandingkan dengan sanad qira’at Ibnu Katsir milik si B, karena nama dan jumlah perawinya berbeda sebelum sampai kepada Nabi ﷺ.

Demikian pula, dalam satu qira’at ‘Ashim, jumlah perawi antara riwayat Hafsh dan Syu’bah juga berbeda. Begitu juga sanad Hafsh melalui thariq Asy-Syathibiyyah dengan sanad Hafsh melalui thariq Al-Mishbah dari Thariq Thayyibah, keduanya memiliki perbedaan dalam nama dan jumlah perawi.

Setelah dipastikan bahwa sanad-sanad yang akan dibandingkan berasal dari qira’at, riwayat, dan thariq yang sama, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa rangkaian sanad tersebut tersusun dengan benar dan terbebas dari isqath (yaitu adanya perawi yang terputus atau tidak disebutkan dalam sanad).

Untuk mengetahui ada atau tidaknya isqath, dapat merujuk kepada kitab-kitab sanad yang terpercaya, seperti An-Nasyr karya Imam Ibnu Al-Jazari, Thabaqatul Qurra’ karya Imam Adz-Dzahabi, Tsabat Zakariya Al-Anshari, manuskrip ijazah Al-Qur’an klasik, serta hasil tahqiq para ulama peneliti sanad masa kini, seperti Syaikh Sya’ban Al-Warroqi, Syaikh Fuad Al-Jabiri, dan lainnya.

Pada masa sekarang, sanad melalui thariq Asy-Syathibiyyah banyak dimiliki oleh mayoritas kalangan huffazh. Oleh karena itu, standar penghitungan sanad umumnya didasarkan pada thariq Asy-Syathibiyyah.

Sanad paling tinggi (‘ali) hingga masa kita sekarang, dari sepuluh qira’at mutawatirah melalui jalur Asy-Syathibiyyah dan Ad-Durrah (yang dikenal dengan ‘asyrah sughra), terdapat pada riwayat Hafsh dari Imam ‘Ashim dan riwayat Ibnu Dzakwan dari Imam Ibnu ‘Amir. Jumlah perawi pada kedua riwayat ini lebih sedikit dibandingkan riwayat lainnya.

Seorang mujaz dikatakan memiliki sanad Hafsh thariq Asy-Syathibiyyah yang paling tinggi jika jumlah perawi antara dirinya dengan Nabi Muhammad ﷺ adalah 27 atau 28 orang.

Siapa saja mereka? Insya Allah akan dibahas pada artikel berikutnya.

Bersambung…