Kajian & Seminar

Tajwid, Qiraat, Naghamat: Tiga Hal yang Sering Ketuker, Padahal Beda Total

25views

Catatan santai dari Qiroat Talk MQI edisi ke-9, bersama Ustadz Anwar Choladi — founder Indonesia Bertajwid, sekaligus salah satu akun paling dikenal di dunia edukasi Al-Qur’an di media sosial Instagram Indonesia

Pernah dengar orang ngobrolin bacaan Al-Qur’an, tapi istilah tajwid, qiraat, sama nagham (irama) dipakainya campur aduk seolah-olah artinya sama?

Kata Ustadz Anwar Choladi, ini sebenarnya pertanyaan klasik. Dari dulu isu ini terus muncul di kalangan pegiat Al-Qur’an, bahkan sejak awal-awal Markaz Qiraat Indonesia (MQI) berdiri dan sering bikin kajian bareng para masyayikh.

Malam itu, lewat layar Zoom, Ustadz Anwar membuka kajian dengan gaya khasnya: santai, blak-blakan, dan sesekali diselingi cerita personal yang bikin materi berat jadi terasa ringan. “Buat yang udah jago, skip aja ya,” candanya di awal, sebelum akhirnya membedah satu per satu ketiga istilah tadi.

Kenapa Ketiganya Sering Ketuker?

Menurut Ustadz Anwar, wajar banget kalau orang awam bingung. Ketiganya memang sama-sama ngomongin suara dan cara membaca Al-Qur’an. Rasanya kayak satu paket. Padahal, kalau dibongkar, fokusnya beda banget:

  • Tajwid: Soal bener atau salahnya bunyi huruf.
  • Qiraat: Soal riwayat jalur cara baca.
  • Nagham (Irama): Soal keindahan suaranya.

Tiga hal ini beda kamar, tapi saling melengkapi. Bukan saling menggantikan.

Ustadz Anwar mulai dari yang paling mendasar: Tajwid. Fokusnya ada pada makhraj (tempat keluar huruf) dan sifat huruf, biar pengucapannya tepat sekaligus indah. Menariknya, ia menganalogikan sifat huruf ini kayak karakter manusia. Setiap huruf—dari hamzah, dal, sampai ba—punya “kepribadian” sendiri, ada yang punya sifat takrir, safir, atau hams.

Secara teori, tajwid punya kaidah yang bisa dipelajari secara sistematis, mulai dari hukum nun mati, mim mati, sampai masalah waqaf (tempat berhenti). Tapi ada satu catatan penting dari Ustadz Anwar: belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardhu kifayah, tapi mempraktikkannya pas lagi baca Al-Qur’an itu fardhu ‘ain (wajib) buat setiap muslim. Jadi, jangan heran kalau ada orang yang bacaannya udah lancar dan enak didengar, tapi pas ditanya nama hukum bacaannya malah bingung. Kata Ustadz Anwar, itu gak masalah. Yang penting praktiknya bener.

Masuk ke ranah kedua: Qiraat. Nah, ini jangkauannya jauh lebih luas dari sekadar tajwid. Qiraat adalah ilmu tentang ragam cara membaca Al-Qur’an yang sah, tetap bersandar pada mushaf Utsmani, dan punya sanad—rantai periwayatan yang menyambung dari guru ke guru sampai ke Rasulullah ﷺ. Di sini dibahas variasi huruf, harakat, sampai dialek seperti takhfif, imalah, dan isymam.

Ustadz Anwar dengan rendah hati mengakui levelnya sendiri. Beliau bercerita baru mendalami qiraat riwayat Hafs ‘an ‘Ashim dan Syu’bah, belum ke riwayat lainnya. Ia mencontohkan perbedaan qiraat yang sering kita dengar tanpa sadar, misalnya variasi bacaan “Kufuwan ahad” yang bisa dibaca pakai wau atau hamzah, atau cara melafalkan nama Malaikat Jibril yang agak beda antara riwayat Hafs dan Syu’bah. Detail kayak gini baru berasa serunya kalau didalami serius—dan untuk itu, beliau menyarankan buat belajar langsung ke MQI.

Lalu yang ketiga: Nagham atau irama. Ini wilayahnya melagukan Al-Qur’an. Model-model iramanya disebut maqamat, dan biasanya ada delapan irama pokok yang populer, kayak Bayati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Sika, Rost, dan Jiharkah. Uniknya, irama ini gak bisa dipelajari pakai notasi musik, melainkan lewat talaqqi—dengar langsung dan tiru dari guru.

Beliau mencontohkan beberapa qari legendaris yang punya ciri khas irama tertentu. Syekh Mahmoud Khalil Al-Hussary itu lekat banget sama irama Nahawand, Syekh Ali Al-Huzaifi sering pakai Rast. Sementara irama Rost sendiri sering disebut sebagai “irama sejuta umat” karena paling fleksibel dan masuk ke hampir semua karakter suara.

Tujuan nagham memang buat memperindah bacaan. Tapi Ustadz Anwar ngasih satu wanti-wanti yang diulang-ulang sepanjang malam:

“Irama boleh dipakai, tapi jangan sampai nagham mengalahkan tajwid. Aturan tajwid yang menyetir irama, bukan irama yang menyetir tajwid.”

Beliau juga ngasih pesan yang cukup realistis—dan agak menggelitik. Buat yang modal suaranya pas-pasan, jangan maksa pakai irama yang nadanya tinggi-tinggi. “Kalau dipaksain, malah gak enak didengar,” katanya sambil terkekeh. Mending fokus ke satu irama yang paling cocok sama karakter suara sendiri, daripada maksa borong semua irama tapi malah merusak tajwidnya.

Cerita dari Balik Layar dan Koreksi Guru

Momen paling hangat malam itu adalah waktu Ustadz Anwar mulai cerita soal pengalaman pribadinya. Beliau ngaku, dulu sebelum menghafal Al-Qur’an, kupingnya akrab banget sama musik. Tapi setelah selesai setoran hafalan 30 juz, rasanya selera musik itu hilang sendiri secara alami. Beliau jadi jauh lebih menikmati murottal, terutama bacaan yang penjiwaannya dalam kayak punya Syekh Abdullah Al-Ghurairi.

Sebagai guru, Ustadz Anwar juga cerita kalau dirinya gak lepas dari teguran. Beliau pernah ditegur sama gurunya, Ustadz Fatwa Hadi (Juara 1 MTQ Internasional 30 juz). Waktu itu, beliau diingatkan buat fokus benerin makhraj dulu sebelum kecentilan mainin irama. Begitu juga dengan Ustadz Miftahul Arifin yang pernah menegurnya karena iramanya sempat bikin tajwidnya keteteran. Pelajaran berharganya: sehebat apa pun kita, koreksi dari guru bersanad itu mutlak. Telinga guru yang terlatih bisa dengar celah sekecil apa pun.

Ada juga cerita tentang temannya, Ustadz Sugeh, yang bikin Ustadz Anwar kagum luar biasa. Ustadz Sugeh ini tetap konsisten setoran hafalan tepat waktu, padahal di saat yang sama istrinya lagi berjuang di ruang bersalin. Buat Ustadz Anwar, ini tamparan sekaligus bukti kalau belajar Al-Qur’an—meski lewat online—kalau dijalani pakai hati, gak bakal dijadiin sekadar sambilan.

Tanya Jawab yang “Daging” Semua

Sesi diskusi mengalir seru karena membahas masalah yang riil dihadapi sehari-hari:

  • Online vs Offline: Ustadz Anwar yang udah ngajar keduanya selama enam tahun sejak pandemi menilai belajar online sebetulnya cukup efektif, sekitar 70% dibanding tatap muka. Malah, beberapa koreksi detail kayak suara yang “masuk hidung” (gunnah yang keliru) justru pertama kali ketahuan pas kelas online. Tapi idealnya tetap kombinasi: offline buat dapet detail dan nuansanya, online buat fleksibilitas jarak.
  • Urutan Belajar: Beliau tegas, tajwid dulu, baru irama. Benerin dulu cara ngucapin huruf per huruf, naik ke kalimat, baru ke ayat. Kalau satu ayat udah dibaca sempurna sesuai tajwid, baru silakan eksperimen pakai irama.
  • Sindrom “Lilin” buat Pengajar: Mengutip nasihat dari Ustadz Fatwa Hadi, beliau membagikan kalimat yang menurutnya jleb banget: “Jangan sampai kita kayak lilin—menerangi orang lain, tapi diri sendiri habis terbakar.” Pesannya dalam: sesibuk apa pun ngajar, seorang guru gak boleh abai buat terus belajar dan upgrade bacaan sendiri.
  • Dilema Sekolah vs Rumah: Seorang ibu sempat curhat bingung karena di rumah anak udah diajarin tajwid basic sesuai arahan ustadz, tapi di sekolah si anak malah dituntut buat fokus ke irama. Solusi dari Ustadz Anwar: kalau bisa, kasih anak kelas tambahan di luar yang fokus ke tajwid, sambil tetep ngukur kapasitas vokal anak. Jangan sampai anak yang suaranya biasa aja dipaksa berirama tinggi di sekolah, yang ada malah bacaannya berantakan semua.

Ustadz Anwar menutup kajian dengan pesan yang sederhana tapi ngena di hati:

“Cintai terus belajar Al-Qur’an. Kalau rasa cintanya lagi hambar atau hilang, datangi orang-orang yang cinta Al-Qur’an. Datangi para ulama—bukan buat pansos, tapi biar kita ketularan aura Qur’an mereka.”

Sebuah titik penutup yang pas. Kajian malam itu, walau judulnya membahas istilah teknis kayak makhraj, sanad, dan maqamat, pada akhirnya membawa kita pulang ke satu kesimpulan: ini soal bagaimana menjaga hubungan kita sama Al-Qur’an tetap hidup. Lewat huruf yang bener, riwayat yang tersambung, dan suara yang jujur—bukan cuma sekadar terdengar indah di telinga.