Kajian & Seminar

Empowered by Al-Qur’an: Menjadi Muslimah Produktif dan Berdampak

26views

Catatan dari Qiroat Talk MQI bersama Ustazah Dr. Nur Millah Muthohharoh, dalam rangka menyambut Pekan Qiroat Internasional (PKI) 2 di Masjid Istiqlal, Jakarta

Ada muslimah yang harinya penuh sesak dengan aktivitas, tapi hidupnya nyaris tak meninggalkan bekas. Ada pula yang tampak biasa saja kesibukannya, namun jejak manfaatnya terasa ke mana-mana. Keduanya diberi jatah waktu yang sama persis: dua puluh empat jam sehari. Lalu apa yang membedakan?

Pertanyaan itulah yang menjadi pijakan kajian sore bertajuk “Empowered by Al-Qur’an: Menjadi Muslimah Produktif dan Berdampak”, yang disampaikan Ustazah Dr. Nur Millah Muthohharoh dalam rangkaian Qiroat Talk yang diselenggarakan Markaz Qiroat Indonesia (MQI). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Pekan Qiroat Internasional (PKI) 2 yang akan digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 29–30 Agustus mendatang.

Sibuk Itu Belum Tentu Produktif

Ning Millah membuka kajian dengan sebuah sindiran halus yang terasa dekat dengan keseharian banyak orang. Ada muslimah yang sibuk sekali, tapi hidupnya minim manfaat: menggulir media sosial berjam-jam tanpa tujuan, larut dalam gosip artis dan influencer, gemar berdebat di kolom komentar demi menang-menangan, menonton video pendek sampai lupa waktu, atau bermain gim secara berlebihan. Ditambah lagi kebiasaan membanding-bandingkan hidup dengan orang lain, ikut serta dalam grup WhatsApp yang isinya ghibah, dan mengecek notifikasi HP padahal tak ada keperluan mendesak.

Semua itu, katanya, adalah bentuk kesibukan yang menipu — terasa produktif, padahal kosong.

Di sisi lain, ada muslimah yang dengan jatah waktu sama justru melahirkan anak-anak yang saleh, istikamah menulis, berbisnis, mengajar, membangun lembaga, dan membuat konten yang bermanfaat. Perbedaannya bukan pada jumlah waktu, tegas Ning, melainkan pada bagaimana waktu itu diisi.

Ia membagi produktivitas ke dalam empat ranah:

  • Produktif untuk Allah — istikamah salat tepat waktu, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan beribadah lainnya.
  • Produktif untuk diri sendiri — konsisten berolahraga, menjaga pola makan, pola gerak, pola pikir, serta terusmengasah kemampuan seperti bahasa Arab atau bahasa Inggris.
  • Produktif untuk masyarakat — mengajar, mengabdi, menulis artikel, menjadi relawan.
  • Produktif untuk keluarga dan profesi — mendidik anak, memasak makanan bergizi, mengatur keuangan keluarga, berkhidmat kepada suami dengan baik, hingga menjalankan profesi (dokter, guru, pengusaha, karyawan) secara profesional dan berintegritas.

Bacalah: Wahyu Pertama yang Menjadi Fondasi

Menariknya, kata Ning Millah, wahyu pertama yang turun bukan perintah salat, zakat, zikir, atau puasa — melainkan “Iqra'”, bacalah. Merujuk pada Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib, perintah membaca ini bukan sekadar membaca buku, tetapi mencakup belajar, berpikir, memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, dan membangun kesadaran diri. Dari sinilah modal utama seorang muslimah produktif bermula: growth mindset yang dibangun di atas ilmu.

Ning kemudian mengaitkannya dengan prinsip dalam Surat Al-Anfal — bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu mengubah keadaan dirinya sendiri, dan Allah tidak akan mencabut suatu nikmat sebelum penerimanya sendiri yang mengubahnya. Artinya, doa saja tanpa ikhtiar tidak cukup. Nikmat yang sudah diberikan pun harus dijaga — dan bentuk menjaga nikmat itu adalah rasa syukur yang diwujudkan lewat usaha yang terus-menerus.

Dari sini Ning menarik simpulan yang menjadi salah satu poin paling tajam malam itu:

“Produktivitas adalah bentuk syukur, dan kemalasan seringkali adalah bentuk nyata dari kufur nikmat.”

Merujuk Surat An-Nahl, Ning mengingatkan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebajikan — baik laki-laki maupun perempuan — akan diberi hayatan thayyibah, kehidupan yang baik, yakni ketenangan hati. Ayat ini secara sengaja menyebut laki-laki dan perempuan berdampingan, menunjukkan bahwa pahala, kemuliaan, dan keberhasilan amal tidak dibatasi jenis kelamin.

“Kamu akan mendapatkan apa yang kamu bayar,” ujar Ning Millah , mengutip ungkapan populer you get what you pay for. Produktivitas bukan monopoli laki-laki — perempuan pun wajib produktif, sebab balasan diberikan sesuai apa yang dikerjakan, bukan sesuai gender.

Ia juga membedakan secara tegas antara sibuk dan produktif. Produktivitas, katanya, diukur dari besarnya dampak (impact), sejalan dengan hadis “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”. Ning mengutip pula ungkapan Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam: jika ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di posisi apa Allah menempatkanmu sekarang. Seseorang yang diberi ilmu Al-Qur’an namun tidak mengajarkannya, kata Ning, tetap mendapat pahala — tapi dampaknya belum maksimal.

Ning juga mengutip pandangan Syekh Yusuf Al-Qaradhawi bahwa waktu adalah modal utama manusia. Ia menyindir dengan contoh yang akrab: orang yang biasa terlambat datang ke acara, tapi begitu urusan penerbangan, tiba-tiba disiplin luar biasa dan datang tiga jam sebelum keberangkatan. “Kenapa tidak seperti itu setiap hari?” tanyanya.

Ia menutup bagian ini dengan cerita seorang profesor asal Mesir, Prof. Dr. Syarif Syawaf, yang pernah berkunjung ke pesantren orang tuanya. Sang profesor mengaitkan produktivitas dengan ayat tentang jual-beli antara Allah dan orang-orang beriman — diri dan harta mereka ditukar dengan surga. “Kita sedang berjualan,” kata Ning, “menjual umur, menjual masa muda, yang harganya sangat mahal. Dan kita pasti akan mendapatkan apa yang kita jual.”

Poin penting lain yang ditekankan Ning Millah: Allah tidak pernah memuji orang yang banyak beramal (aktsaru ‘amalan), melainkan yang paling baik amalnya (ahsanu ‘amalan). Merujuk tafsir Ibnu Katsir, sebuah amal yang ikhlas tapi tidak benar tidak akan diterima; sebaliknya, amal yang benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Amal yang tanpa keikhlasan, dalam ungkapan Kitab Al-Fawa’id, diibaratkan seorang musafir yang membawa tas berisi pasir — hanya memberatkan, tak memberi manfaat apa pun.

Lalu mengapa banyak muslimah yang rajin tapi hidupnya tidak berkembang? Ning mengutip “tamparan keras” dari Ibnul Qayyim: menyia-nyiakan waktu itu lebih berat daripada kematian. Sebab kematian hanya memutus hubungan seseorang dengan dunia dan penghuninya, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutus hubungan seseorang dengan Allah. Banyak orang takut mendengar kabar kematian, tapi tidak merasa takut ketika menggulir layar ponsel selama berjam-jam tanpa henti.

Ning mengingatkan ucapan Imam Hasan Al-Bashri: “Engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dirimu ikut berlalu.” Karena itu, jangan sampai ada satu hari pun yang berlalu tanpa produktivitas — dimulai dari hal kecil: pola makan, pola tidur, kualitas salat, hingga konsistensi membaca Al-Qur’an.

Sebagai teladan, ia menceritakan seorang ulama yang harinya penuh dengan mengajar, tapi tak pernah absen menulis — sedikit di hari sibuk, banyak di hari longgar. Bagi Ning, seorang muslimah semestinya tidak berhenti pada gelar salihah, tapi bergerak menjadi muslihah — yang membawa perbaikan dan dampak bagi sekitarnya.

Bagian ini menjadi salah satu inti gagasan Ning. Ia mengambil beberapa sosok perempuan inspiratif dalam sejarah Islam: Khadijah radhiyallahu ‘anha sebagai pebisnis dan dermawan; Aisyah radhiyallahu ‘anha yang meriwayatkan sekitar dua ribu hadis dan menjadi rujukan para sahabat; Maryam ‘alaihissalam yang melahirkan keturunan para nabi sekaligus menjaga kehormatan diri; hingga Asma binti Abu Bakar yang tangguh, mandiri, dan berani.

Merujuk tafsir Asy-Syaukani, umat terbaik disebut demikian karena kesempurnaan iman mereka, ditambah amar makruf nahi mungkar serta mengajak orang lain beribadah kepada Allah. Artinya, kata Ning, kesibukan memperbaiki diri sendiri saja belum cukup. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menuliskan konsep yang senada: kesempurnaan seorang mukmin bukan hanya pada perbaikan dirinya sendiri, tetapi juga pada perannya menjadi sebab kebaikan bagi orang lain, sesuai kemampuannya.

Inilah esensi peran manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana disebut dalam Surat Al-Baqarah — memakmurkan bumi dengan ketaatan kepada Allah. Apa pun profesinya — dokter, dosen, guru, karyawan, pengusaha, bahkan kreator konten — akan bernilai ibadah selama menghadirkan nilai-nilai Allah di dalamnya.

Ning menegaskan, indikator keberhasilan bukan banyaknya santri, jumlah pengikut media sosial, jabatan, atau penghargaan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan orang lain. Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah: dua nikmat yang sering dilalaikan manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Manusia baru menyadari nilai sehat ketika sakit — karena itu, menjaga kesehatan pun bagian dari produktivitas itu sendiri.f

Menjelang penutup, Ning merangkum gagasannya menjadi tujuh langkah praktis untuk menjadi muslimah yang produktif berbasis Al-Qur’an:

  • Memiliki tujuan hidup. Bukan sekadar hidup mengalir tanpa arah — makan, tidur, mandi, selesai. Seorang muslimah perlu punya ambisi dan tujuan yang jelas, baik dalam ibadah, mengurus rumah tangga, belajar, mengajar, menulis, mendidik anak, maupun berbisnis.
  • Menghargai waktu. Merujuk sumpah Allah dalam Al-Qur’an — demi masa, demi dhuha, demi fajar — Ning menegaskan waktu adalah modal utama kehidupan. Tipsnya sederhana: selalu memakai jam tangan, bahkan hingga menjelang tidur, agar senantiasa sadar akan detik dan menit yang berjalan.
  • Selalu bergerak. Merujuk pada prinsip “apabila selesai satu urusan, kerjakan urusan berikutnya” dalam Surat Al-Insyirah — begitu satu pekerjaan tuntas, jangan berhenti, lanjutkan ke pekerjaan berikutnya.
  • Selalu bertumbuh. Terinspirasi dari doa “Rabbi zidni ‘ilma” — satu-satunya permintaan tambahan yang Allah perintahkan kepada Nabi adalah tambahan ilmu. Imam Ahmad bahkan menyebut manusia lebih butuh ilmu daripada makan dan minum.
  • Memberi manfaat. Sejalan dengan prinsip yang berulang kali ditekankan sepanjang kajian: nilai seseorang diukur dari besarnya manfaat bagi sesama.
  • Tidak menunda. Bersegera dalam kebaikan, sebagaimana anjuran untuk bersegera menunaikan salat begitu waktunya tiba.
  • Meninggalkan warisan. Merujuk hadis tentang tiga hal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang wafat: anak saleh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah. Dalam konteks Al-Qur’an, ini berarti tidak cukup hanya bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga menghafalkannya, memahaminya, berakhlak dengan Al-Qur’an, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Ning menutup dengan pesan tentang pentingnya membangun ekosistem kebaikan dan support system antar-sesama muslimah — woman support woman, bukan saling menjatuhkan.

Sesi tanya jawab membuka ruang diskusi yang jujur dan membumi. Salah satu pertanyaan menyoroti kesenjangan antara teori dan praktik — terutama bagi perempuan yang menghadapi fluktuasi hormonal yang memengaruhi mood, energi, dan konsentrasi, termasuk menjelang menstruasi.

Ning mengakui hal itu sebagai tantangan nyata. Perempuan memang diciptakan dengan siklus hormonal yang memengaruhi kondisi fisik, emosi, dan energi. Namun ia menggarisbawahi perbedaan penting antara pengaruh dan kendali: hormon dapat memengaruhi perasaan, tetapi tidak sepenuhnya menentukan pilihan. Islam mengajarkan untuk tetap berikhtiar semaksimal mungkin sesuai kemampuan masing-masing.

Ketika energi sedang turun, katanya, jangan memaksakan diri untuk produktif dengan standar yang sama seperti hari-hari prima. Produktivitas dalam Islam bukan berarti bekerja keras tanpa henti, melainkan konsisten melakukan amal terbaik sesuai kondisi — seperti halnya seseorang yang sedang berdiet tidak harus disiplin sempurna setiap hari; sesekali “cheating” lalu kembali konsisten adalah hal yang wajar, bukan kegagalan.

Yang penting, kata Ning, adalah tetap menjaga jangkar-jangkar utama: ibadah wajib, target yang disesuaikan dengan kondisi fisik (bukan target harian yang kaku, melainkan target bulanan yang fleksibel), serta menjaga pola makan, olahraga, dan tidur. Dan yang tak kalah penting: menjaga rutinitas membaca Al-Qur’an secara konsisten, sesedikit apa pun — karena, seperti anak-anak yang terbiasa melompat tali sejak rendah hingga tinggi, kebiasaan pada akhirnya membentuk kemampuan.

Ia mengingatkan doa yang diajarkan Rasulullah: “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal” — Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Manusia memang lemah, tapi juga kuat — dan kemalasan adalah sesuatu yang harus terus diperangi, meski tetap harus dibedakan dari kebutuhan tubuh untuk beristirahat.

Ning juga membagikan tip praktis untuk konsisten membaca Al-Qur’an (nderes): jadikan Al-Qur’an sebagai hiburan, bukan beban. Sebagaimana seseorang begitu dekat dengan ponselnya karena menganggapnya hiburan, jadikan Al-Qur’an demikian pula — maka kedekatan dengannya akan tumbuh secara alami, sedikit demi sedikit.

Kajian ditutup dengan pesan sederhana namun dalam: produktivitas bukan soal seberapa banyak hal yang dikerjakan, melainkan seberapa besar ketulusan dan manfaat yang lahir darinya. Dan bagi seorang muslimah, Al-Qur’an bukan hanya bacaan harian — ia adalah kompas yang membentuk cara memandang waktu, diri, dan peran di tengah masyarakat.