Dari Sudan hingga Zaman Nabi: Metodologi Hafalan Al-Qur’an dan Bacaan Rasulullahﷺ

Ringkasan Talk Show Qiraat Internasional
Bersama Syaikh Waddlah Khadir Husain & Syaikh Mochamad Ihsan Ufiq
Diselenggarakan oleh Markas Qiroat Indonesia (MQI)
Talk show ini menghadirkan tamu istimewa dari Sudan: Syaikh Waddlah Khadir Husain, seorang ulama dan qari internasional yang perjalanan mengajinya sangat luar biasa. Beliau berguru kepada sejumlah syaikh ternama, di antaranya Syaikh Abdun Nasir, Syaikh al Ma’sharawi, dan beberapa syaikh lainnya dalam rangkaian perjalanan ilmu yang panjang.
Syaikh Waddlah juga dikenal sebagai pemenang lomba MTQ Internasional di Qatar yang berhadiah sekitar satu miliar rupiah — sebuah pencapaian yang luar biasa. Selain itu, beliau aktif sebagai imam masjid, khatib, dan da’i, baik di Sudan maupun di Qatar tempat beliau bermukim.
Dalam acara ini, Syaikh Mochamad Ihsan Ufiq selaku pembina MQI bertindak sebagai host sekaligus penerjemah, menjembatani diskusi antara narasumber berbahasa Arab dengan peserta berbahasa Indonesia.
Syaikh Wadidlah menekankan bahwa sebelum seseorang mulai menghafal Al-Qur’an, hal yang paling penting ditanamkan terlebih dahulu adalah rasa cinta kepada Al-Qur’an. Tanpa fondasi ini, hafalan akan mudah goyah dan proses belajar akan terasa berat.
Beliau mengibaratkan kondisi hati yang tidak terhubung dengan Al-Qur’an seperti orang yang sedang sakit — tidak bisa sembuh secara instan. Obatnya perlu proses dan keikhlasan.
Beberapa tips yang beliau bagikan untuk menumbuhkan cinta Al-Qur’an:
- Ikhlaskan niat kepada Allah — niatkan bahwa mendekat kepada Al-Qur’an adalah jalan untuk mendekat kepada-Nya.
- Tentukan “waktu keramat” bersama Al-Qur’an setiap hari, khususnya di waktu pagi setelah Subuh.
- Mulai menghafal secara bertahap — satu atau dua ayat per hari bagi yang sibuk, namun bagi anak-anak muda dianjurkan semaksimal mungkin.
- Praktikkan hafalan dalam shalat — terutama shalat Subuh dan Tahajud. Membaca hafalan dalam shalat terbukti sangat memperkuat daya ingat.
- Jauhi kemaksiatan — mata yang digunakan membaca mushaf jangan sampai digunakan untuk melihat yang haram; telinga yang digunakan mendengar Al-Qur’an jangan digunakan untuk mendengarkan yang diharamkan.
Salah satu bagian yang paling menarik dari diskusi ini adalah cerita Syaikh Waddlah tentang metode belajar Al-Qur’an di Sudan yang sangat intensif dan penuh disiplin.
Di Sudan, halaqah Al-Qur’an memiliki sistem yang mirip dengan pondok pesantren di Indonesia — para murid tinggal bersama, meninggalkan rumah dan orang tua demi menuntut ilmu. Namun bedanya, kegiatannya jauh lebih masif:
- Dimulai sejak setelah Subuh, dibangunkan oleh guru hingga pukul 10 pagi untuk mengaji.
- Sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan ngaji kembali, ditambah sesi penulisan — di mana murid menulis ulang apa yang telah dipelajari dari gurunya di papan tulis (lauh).
- Malamnya, mereka terus mengulang, dan keesokan harinya mengulangi rutinitas yang sama.
- Soal makanan, beliau menyebutkan bahwa ilmu memang tidak bisa diraih dalam keadaan santai dan mewah — para murid hidup sederhana, penuh fokus, dan mengekang diri dari kemanjaan.
Pola belajar seperti ini, menurut Syaikh Ihsan Ufiq, adalah salah satu titik perbedaan yang tidak ditemui di Indonesia — dan diharapkan bisa menjadi inspirasi.
Dalam sesi mengenai bacaan Nabi Muhammad ﷺ, Syaikh Waddlah mensifati bacaan beliau dengan beberapa karakter utama:
- Tartil — membaca dengan jelas dan tuma’ninah, sesuai ilmu tajwid.
- Mujawwad — memiliki keindahan dan keterkaitan makna yang dalam.
- Mad yang jelas — panjang-pendek bacaan beliau sangat terjaga.
- Khusyuk — bacaan Nabi membuat para sahabat terkesima dan larut dalam tadabbur.
Syaikh Ihsan menceritakan sebuah kisah yang disampaikan Syaikh Waddlah: ada seorang sahabat bernama Jubair yang ketika mendengar bacaan Nabi, begitu tersentuh hingga berkata bahwa hatinya seolah-olah “terbang” tidak kuat menanggung kekhusyukan bacaan tersebut.
Syaikh Waddlah juga menegaskan pentingnya waqaf ibtida’ (berhenti dan memulai di tempat yang benar), karena Nabi sebagai penerima wahyu sangat memahami makna ayat dari akar-akarnya. Beliau mencontohkan ayat tentang Nabi Yusuf yang jika salah berwaqaf, maknanya bisa terbalik sepenuhnya — antara “Nabi Yusuf yang makan barang” atau “barang yang memakan Nabi Yusuf.”
Salah satu topik yang diperdebatkan dalam dunia Al-Qur’an adalah hukum mengikuti musabaqah (lomba) membaca Al-Qur’an, karena sebagian ulama ada yang mengharamkannya.
Syaikh Waddlah memberikan jawaban yang moderat dan proporsional:
- Musabaqah pada dasarnya adalah munafasah — saling berlomba dalam kebaikan, dan hal itu diperbolehkan dalam Islam.
- Yang menjadi masalah adalah niat — jika seseorang ikut lomba semata-mata demi hadiah, popularitas, atau untuk mencari pekerjaan, itulah yang dikhawatirkan para ulama.
- Namun selama niatnya adalah untuk bercompetisi dalam kebaikan demi meningkatkan kualitas bacaan dan kecintaan pada Al-Qur’an, maka musabaqah diperbolehkan.
- Intinya, semua amal ibadah — termasuk berlomba dalam Al-Qur’an — bergantung pada keikhlasan niat kepada Allah.
Topik yang paling hangat dibahas dalam talkshow ini adalah soal langgam — cara membaca Al-Qur’an dengan lagu atau nada yang khas dari suatu budaya, seperti Langgam Jawa yang sempat menuai perdebatan di Indonesia.
Menariknya, Syaikh Waddlah dan Syaikh Muhammad Abbas (wartawan Al-Jazeera yang juga hadir) menyampaikan bahwa ada kemiripan antara langgam Sudan, langgam Jawa, dan langgam Hijaz — khususnya dalam pola naik-turunnya nada. Ini menunjukkan bahwa langgam lokal bukanlah fenomena yang asing dalam tradisi membaca Al-Qur’an di dunia.
Kesimpulan dari diskusi panjang ini, Syaikh Waddlah memberikan jawaban yang diplomatis dan moderat:
Membaca Al-Qur’an dengan langgam lokal (termasuk Langgam Jawa) pada dasarnya tidak dilarang, selama memenuhi syarat-syarat berikut:
- Tajwid harus tetap benar dan terjaga — langgam tidak boleh mengorbankan hukum-hukum tajwid.
- Tidak berlebihan dalam lengkak-lenggok (torop) — jika nada terlalu berlebihan sehingga menyerupai musik atau lagu hiburan, itu yang menjadi masalah.
- Tidak menimbulkan kesan yang mengarah pada lagu-lagu yang diharamkan — jika mendengar bacaan itu langsung teringat pada lagu tertentu yang bukan Al-Qur’an, maka hukumnya berbeda.
- Tidak ada unsur mempermainkan bacaan (tadrib).
Syaikh Ihsan Ufiq menambahkan bahwa larangan atau pengharaman terhadap langgam tertentu tidak tepat dilakukan secara umum kepada orang lain, selama syarat-syarat di atas terpenuhi. Setiap daerah memiliki langgamnya sendiri yang merupakan bagian dari kekayaan budaya umat Islam.
Di akhir acara, Syaikh Wadidlah dan Syaikh Muhammad Abbas menyampaikan beberapa wasiat penting:
Dari Syaikh Waddlah:
- Ikhlaskan hati sebelum membaca Al-Qur’an — tanamkan ini sebagai kebiasaan setiap hari.
- Tentukan dan jaga waktu khusus bersama Al-Qur’an (taksis waqt).
- Praktikkan hafalan dalam shalat, terutama shalat malam — ini cara paling efektif menguatkan hafalan.
- Jaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan.
- Ingat: seluruh ulama sepakat bahwa satu-satunya cara melancarkan bacaan Al-Qur’an adalah dengan mengulang — sebanyak apapun metode yang dipelajari, semuanya akan efektif dengan pengulangan.
Dari Syaikh Muhammad Abbas:
- Perkokoh niat sebelum memulai — karena Allah telah berfirman bahwa jika dalam hati seseorang ada kebaikan (niat yang tulus), Allah akan menambah dan memberkahi niat itu berlipat-lipat.
Tentang urutan belajar (untuk peserta yang bertanya apakah perlu belajar ilmu qiraat terlebih dahulu): Syaikh Waddlah menyarankan agar tidak tergesa-gesa mempelajari ilmu qiraat. Prioritasnya adalah hafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu dengan satu riwayat. Setelah hafal, barulah boleh melanjutkan ke mempelajari tafsir, nahwu-balaghah, atau ilmu qiraat lainnya sesuai minat.
Penutup
Talk show ini merupakan bagian dari rangkaian acara pra-Pekan Internasional yang diselenggarakan oleh Markas Qiroat Indonesia, yang rencananya akan diadakan di Masjid Istiqlal Jakarta. Acara ini menegaskan satu hal yang terus diulang-ulang: kunci utama dalam perjalanan bersama Al-Qur’an bukan sekadar metode atau teknik, tetapi keikhlasan niat dan konsistensi dalam pengulangan — dua hal yang jika dimiliki, akan membuka pintu keberkahan Al-Qur’an dalam kehidupan seseorang.
Semoga kajian ini bermanfaat dan menjadi motivasi untuk terus mencintai, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an.



