Khataman Qiroat dan Kajian Qiroat Talk Bersama Syaikhah Ahlam Naji Al Yamaniyyah

Qiroat Talk merupakan kajian rutin yang membahas berbagai tema tentang Al Quran dan Qiroat yang diadakan untuk menyongsong Pekan Qiroat Internasional 2 di Masjid Istiqlal pada bulan Agustus mendatang, insyaaAllah. Kajian kali ini disampaikan oleh Syaikhah Ahlam Naji Al-Yamaniyyah, seorang ulama perempuan yang dikenal luas dalam bidang ilmu qiraah dan sanad Al-Qur’an. Beliau menyampaikan materi dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan secara langsung oleh Ustadzah Aisyah (bendahara MQI) ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dipahami oleh seluruh peserta.
Selain kajian inti, acara ini juga menjadi momen yang sangat istimewa karena dilangsungkan khataman dan setoran Qiraah, yaitu khataman Setoran Qiraah Asyrah oleh Ustadzah Qonita Dzakia (Kadiv Tasmi Mutun MQI) serta Qiraah Ashim oleh Ustadzah Chairunnisa (Sekretaris MQI) kepada Ustadz Mochamad Ihsan Ufiq (Pembina MQI). Keduanya merupakan pencapaian luar biasa yang menjadi bukti nyata dari perjuangan dan kesabaran seorang penuntut ilmu.
Dalam sesi pembuka, Syaikhah menyampaikan ungkapan kegembiraan dan doa atas keberhasilan dua ustadzah yang menyelesaikan setoran qiraah mereka:
Kepada ustadzah Qonita Dzakia, Syaikhah menyebut hari khataman ini sebagai “hari di mana beliau menjadi pengantin yang sesungguhnya.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa mulianya posisi seorang yang berhasil mengkhatamkan ilmu yang diperjuangkannya. Syaikhah pun mendoakan semoga halaqah ini bukan yang terakhir, melainkan menjadi jembatan menuju majelis-majelis ilmu yang lebih tinggi.
Syaikhah secara khusus juga mengapresiasi perjuangan Ustadzah Chairunnisa yang tinggal di Amerika Serikat — sebuah negeri non-Muslim — namun tetap gigih berjuang hingga berhasil meraih sanad Al-Qur’an. Hal ini menjadi inspirasi bahwa hambatan geografis dan lingkungan bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu.
Syaikhah membuka kajian dengan menegaskan bahwa ilmu itu “laziz” — sangat nikmat dan lezat. Namun ilmu tidak dapat diraih dengan mudah. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan. Barangsiapa yang mendapatkan ilmu dengan mudah, pada hakikatnya ia hanya mendapatkan sedikit saja dari ilmu tersebut. Sebagaimana perkataan para ulama: seseorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu pun hanya akan mendapatkan sebagian saja. Maka bagaimana jika ia hanya memberikan waktu yang sedikit?
Ilmu sangatlah mahal dan mulia. Allah Ta’ala pun menjanjikan derajat yang sangat tinggi bagi para penuntut ilmu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun derajat tinggi itu tidak datang dengan mudah — ia harus diperjuangkan.
Syaikhah menyebut tiga kunci yang diwarisi dari perkataan salaf dalam meraih ilmu:
• Safar – merantau atau bepergian jauh demi ilmu, bersedia meninggalkan kenyamanan demi mencari guru dan ilmu yang lebih tinggi.
• Sahar – begadang, tidak banyak tidur di malam hari karena digunakan untuk belajar dan mengulang ilmu.
• Bukur – bangun lebih awal dari orang lain, memanfaatkan waktu pagi sebagai waktu terbaik untuk menuntut ilmu.
Ditambah lagi, perkataan salaf menyebutkan bahwa menghidupkan ilmu satu jam saja di malam hari — dengan menyalakan lampu dan duduk belajar — lebih baik daripada menghidupkan seluruh malam dengan ibadah lain yang bukan ilmu.
Syaikhah menyampaikan bahwa waktu terbaik untuk muzakarah (mengulang pelajaran) adalah setelah salat Isya hingga pagi hari. Di zaman dahulu, para ulama dapat dibedakan dari orang awam justru dari apa yang mereka lakukan setelah Isya. Seorang calon alim akan duduk belajar, sementara orang yang tidak menuntut ilmu langsung tidur.
Perbedaan penting juga disebutkan: orang yang berilmu ketika menghidupkan malam beribadah dengan sahih, ikhlas, dan bersih dari bid’ah. Sementara yang tidak berilmu meski menghidupkan malam, beribadah dengan cara yang belum tentu ada tuntunannya. Ini menegaskan bahwa ilmu adalah pondasi dari segala ibadah.
Syaikhah mengingatkan bahwa tidak jarang ditemukan orang yang usianya sudah lanjut, bahkan di atas lima puluh atau tujuh puluh tahun, justru lebih bersemangat belajar dibandingkan yang masih muda. Orang muda sering beralasan sudah tahu, sudah tidak ada waktu, atau merasa sudah bukan saatnya belajar.
Padahal, meskipun seseorang sudah lama belajar, kesalahan dalam ibadah masih sering terjadi. Ada yang wudhu-nya masih salah, ada yang shalatnya masih keliru. Hal-hal dasar ini pun masih perlu terus dipelajari. Maka tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan tidak ada alasan untuk berhenti.
Sebagaimana judul besar kajian ini, Syaikhah menegaskan bahwa kunci pertama dalam menuntut ilmu adalah kesabaran. Sabar yang pertama adalah sabar menjaga niat. Niat harus selalu lurus dan ikhlas karena Allah. Namun hati manusia (“qalb” berasal dari kata “qallaba” yang berarti berbolak-balik) mudah goyah. Seseorang bisa ikhlas satu jam, lalu tidak ikhlas lagi.
Oleh karenanya, kita harus terus memperbarui niat dengan berdoa kepada Allah agar hati kita selalu dalam keikhlasan. Niat yang benar bukan sesuatu yang cukup dilakukan sekali di awal, melainkan harus diperjuangkan setiap saat sepanjang perjalanan menuntut ilmu.
Tidak ada seorang penuntut ilmu yang hakiki yang tidak pernah merasakan ujian. Setiap pelajar pasti menghadapi kesulitan. Ujian itu bisa datang dalam berbagai bentuk:
• Fisik: kelelahan, sakit, atau harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi ilmu.
• Psikologis: tekanan batin, perasaan insecure, atau godaan untuk menyerah.
• Faktor eksternal dan internal: urusan keluarga, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab dunia.
Syaikhah juga menyebutkan empat musuh utama dalam menuntut ilmu dan beribadah, yaitu:
• Iblis
• Nafs (diri sendiri)
• Dunya (kecintaan terhadap dunia)
• Hawa (hawa nafsu)
Kesulitan dalam menuntut ilmu tidak hanya dirasakan oleh murid (thalib), tetapi juga oleh guru (mu’allim). Syaikhah menyebut Ustadz Ihsan Ufiq sebagai contoh: beliau tidak tinggal di Indonesia, memiliki keluarga dan berbagai urusan lainnya, namun tetap bersabar mengajar. Di antara ujian seorang guru adalah bersabar menghadapi murid-muridnya yang mungkin sulit memahami pelajaran sehingga harus diulang berkali-kali. Kesabaran guru bahkan dituntut lebih besar lagi.
Syaikhah menyajikan beberapa kisah nyata dari ulama-ulama terdahulu sebagai teladan konkret tentang perjuangan dalam menuntut ilmu:
Di zaman dahulu, harga kitab sangat mahal sehingga tidak semua penuntut ilmu mampu membelinya. Ketika tidak mampu membeli kitab, seorang pelajar akan mencari alternatif yang lebih terjangkau: kertas kosong. Ia lalu meminjam kitab dari temannya dan menyalinnya secara manual. Bahkan untuk membeli kertas pun, ada yang sampai menjual pakaian yang dimilikinya. Begitulah pengorbanan mereka demi mendapatkan satu lembar ilmu.
Ada seorang ayah yang menjual rumahnya demi memberikan bekal kepada anaknya, Hisyam bin Ammar, untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu. Pengorbanan orang tua yang luar biasa ini menjadi modal perjalanan keilmuan yang kemudian menghasilkan seorang ulama besar.
Perjalanan menuntut ilmu di masa lalu bukan sekadar naik pesawat atau kereta. Para ulama berjalan kaki atau menunggangi unta melewati padang pasir yang panas, gurun yang gersang, medan perang, hingga musim dingin yang membekukan. Dikisahkan ada seorang yang jari-jarinya membeku karena dinginnya cuaca hingga berjatuhan. Namun semua itu tidak menghentikan mereka.
Murid-murid Imam Al-Bukhari menyaksikan bagaimana beliau menjalani malam-malamnya. Setiap kali mendengar suatu faedah ilmu, beliau menyalakan lampu, mencatatnya, lalu mematikan lampu kembali. Hal ini berulang hingga lima belas sampai dua puluh kali dalam satu malam. Setelah itu, beliau tidak beristirahat, melainkan langsung melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat hingga menjelang subuh.
Imam Al-Hazimi terbiasa menulis dan mencatat ilmu sepanjang malam hingga fajar. Karena lampu menggunakan minyak — bukan listrik seperti sekarang — orang-orang di sekitarnya yang iba dengan kondisi beliau bersepakat untuk tidak memberikan minyak agar beliau bisa beristirahat. Namun ternyata habisnya minyak tidak membuat beliau tidur; beliau justru mengisi malam dengan shalat dalam kegelapan hingga pagi.
Imam Al-Mundziri dikenal karena selama dua belas tahun penuh, lampu di hadapannya tidak pernah padam di malam hari. Lampu yang menyala adalah simbol bahwa beliau selalu bersama kitab, selalu bersama ilmu. Dua belas tahun — tanpa satu malam pun terkecuali.
Jika para ulama terdahulu harus berjuang dengan segala keterbatasan fisik dan sarana, maka kita di zaman ini justru dimudahkan dengan berbagai wasilah (perantara) menuntut ilmu:
• Majelis ilmu hadir dalam berbagai bahasa: Arab, Inggris, Indonesia, bahkan Jawa.
• Belajar bisa dilakukan dari guru secara langsung maupun secara online.
• Semua peserta yang hadir di Zoom pun sudah memiliki handphone dan kuota — sebuah nikmat yang luar biasa.
Syarat utama agar kita bisa memanfaatkan semua kemudahan ini adalah satu: himmah — semangat yang datang dari dalam diri sendiri. Tidak dari orang lain, tidak dari motivasi semata. Semangat itu harus tumbuh dari kesadaran diri.
Syaikhah menyampaikan sebuah prinsip yang sangat menggugah: lebih baik seseorang meninggal dalam keadaan sedang menuntut ilmu, daripada hidup seratus atau seratus dua puluh tahun namun dalam kejahilan, tidak pernah belajar. Kita tidak dituntut untuk sampai ke ujung perjalanan ilmu itu. Kita hanya dituntut untuk terus berjalan. Dan barangsiapa yang wafat di tengah jalan menuntut ilmu, ia tidak akan dihukum atas ketidaksempurnaannya — justru derajat yang tinggi di sisi Allah yang menunggunya.
Syaikhah menutup kajian dengan menegaskan bahwa contoh-contoh perjuangan yang beliau paparkan dari para ulama terdahulu bukan sesuatu yang jauh dan asing. Contoh nyata di zaman kita ada di tengah-tengah kita: Ustadzah Qonita dan Ustadzah Chairunnisa adalah bukti hidup dari kesabaran dan ketekunan dalam menuntut ilmu. Begitu pula murid-murid beliau yang lain yang telah bersabar selama lebih dari sepuluh tahun hingga meraih sanad, bahkan di antaranya kini mengajarkan ilmu itu di luar negeri, termasuk di Kota Madinah.
Syaikhah berharap bahwa pertemuan ini menjadi sebab berkumpulnya kita kembali — beliau, para murid, dan kita semua — di Firdaus yang tertinggi. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Beliau juga berpesan: semakin sulit perjuangan dalam mendapatkan ilmu, maka semakin nikmat ilmu itu ketika didapat. Dan tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari ilmu, khususnya ilmu Al-Qur’an. Ilmu Al-Qur’an adalah jalan menuju surga — sebuah jalan yang penuh perjuangan, namun berujung pada kemuliaan yang abadi.



